Membangun Daya Kritis Siswa Di Era VUCA

 


ilustrasi

Pada era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA) yang ditandai dengan perubahan yang cepat dan tidak terduga di berbagai bidang kehidupan, dunia pendidikan juga mengalami tantangan yang signifikan. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah tingkat belajar siswa disekolah. Penurunan tingkat belajar ini merupakan fenomena yang perlu dipahami secara mendalam karena berpotensi mempengaruhi pencapaian prestasi siswa serta kualitas pendidikan secara umum. Pendidikan ditingkat menegah maupun tingkat dasar memiliki peran penting dalam membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan dan tantangan di era digital. Namun, dengan adanya perubahan yang begitu cepat dan kompleks, siswa menghadapi berbagai hambatan yang dapat mempengaruhi motivasi, minat, dan semangat mereka.

VUCA adalah sebuah kondisi ketika perubahan terjadi sangat cepat, tidak pasti, kompleks, dan ambigu yang disebabkan karena transformasi digital atau teknologi. Istilah VUCA pertama kali digunakan di dunia militer pada masa 1990-an untuk menggambarkan situasi pertempuran paramedis, ketika informasi lapangan sangat terbatas.

Mengenal Istilah VUCA

Volatility (Volatilitas)

Volatilitas mengacu pada kecenderungan untuk berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Dalam kondisi tertentu, bahan yang mudah menguap dapat meledak secara berbahaya, berubah dengan cepat dari stabil menjadi tidak teratur. Ini memberikan indikasi lain bahwa kondisi volatile adalah kondisi yang berbahaya.

Adanya perubahan yang saat ini terjadi dapat dikatakan sudah pada kecepatan yang tidak bisa diprediksikan. Frekuensi, besar kecilnya perubahan sudah tidak dapat ditebak lagi, hal inilah yang menjadi penyebab adanya ketidakstabilan atau volatilitas. Adanya volatilitas ini tidak hanya menimpa sektor teknologi dan bisnis, tetapi juga pada sektor sosial, maupun ekonomi. Faktor-faktor tersebutlah yang dapat mempengaruhi terjadinya laju perubahan.

Uncertainty (Ketidakpastian)

Ketidakpastian mengacu pada kurangnya informasi spesifik, yang dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan spesifik. Menanyakan, Berapa probabilitas hari ini misalnya biyaya pendidikan akan turun? adalah pertanyaan yang merupakan upaya untuk mencirikan ketidakpastian. Pada proses dalam menggapai tujuan, adanya ketidakpastian Uncertainty tentu akan ditemukan dalam tiap-tiap tahapnya. Adanya ketidakpastian masih dapat diatasi dengan adanya informasi. Banyaknya informasi serta pemahaman yang berhasil didapatkan, maka kemungkinan munculnya ketidakpastian akan semakin mengecil.

Complexity (Kompleksitas)

Kompleksitas akan muncul bersamaan dengan adanya perkembangan yang terus-menerus terjadi. Dapat diibaratkan seperti semakin banyak melakukan pembangunan, maka akan semakin berlapis juga komponen yang menjadi isinya, akan semakin kompleks juga masalah yang ada.

Ambiguity (Ambiguitas)

Ambiguitas mengarah pada sebuah pesan yang berasal dari informasi yang telah diperoleh. Namun informasi yang berhasil diperoleh tersebut tidak dapat memunculkan satu tujuan yang jelas dan malah menunjukkan makna ganda, maka pada kondisi itulah ambiguitas muncul.

Dalam hal keterampilan terkait VUCA, kesiapan kognitif tingkat tinggi harus dikembangkan, yang terdiri dari kesiapan mental, emosional, dan interpersonal (Bawany, 2016).  Pembelajaran  terjadi berdasarkan kebutuhan peserta didik, menggunakan berbagai sumber, media dan saluran pembelajaran dan  pembelajaran  sepanjang  hayat,  belajar  melalui  teknologi  informasi,  motivasi,  sikap  dan  adaptasi terhadap perubahan, growth mindset, tidak fixed mindset (Wibawa, 2018).

Sebagai  calon  pemimpin  di  masa yang akan datang, siswa  tidak  hanya  dibekali  dengan  ilmu  yang serba  bisa,  tetapi  juga  dengan  cara  berpikir.  Pola  pikir  yang  harus  selalu di biasakan  adalah  pola pikir  adaptif  masa  depan  yaitu  analitis,  kritis  dan  kreatif.  Berpikir  kritis  adalah kemampuan  untuk mengenali  asumsi,  mengevaluasi  argumen,  dan  menarik  kesimpulan. 

Membangun Daya Kritis Siswa di Era VUCA

Pendidikan pada abad 21 ini, merupakan variabel yang sangat penting dan menentukan dalam pembangunan sebuah negara. Kita semua mengetahui bahwa maju tidaknya sebuah negara dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang akan berimbas sampai pada pembelajaran disetiap sekolah. Abad 21 dicirikan oleh berkembangnya informasi secara digital, hal inilah yang dikatakan oleh banyak orang dengan revolusi industri terutama industri informasi, era digital telah mewarnai kehidupan manusia. Untuk membangun daya kritis siswa maka dapat dikembangan dengan membekali kompetensi 6 C, adapun penjelasanya sebagai berikut:

Critical Thinking and Problem Solving

 

Keterampilan menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpertasikan informasi untuk membuat keputusan merupakan salah satu ciri peserta didik yang kritis. Seorang siswa akan dapat mengidentifikasi dan mengelola emosi dan bias dalam proses pemikirannya, dan mampu membuat keputusan yang objektif dan beralasan. Siswa yang berpikir kritis juga mampu mengeksplorasi perspektif yang berbeda dan mempertanyakan status quo

 

Perintah untuk berpikir, bisa dilihat dalam Al-Qur’an, (surah al-Baqarah [2]: 219): Artinya: “Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan”. Pengertian dan penjabaran ayat-ayat di atas menunjukan bahwa keterampilan berpikir merupakan perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an sekaligus menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki untuk hidup.

Communication 

Siswa yang komunikatif adalah siswa yang mampu menyampaikan ide, pendapat, dan informasi dengan jelas dan efektif. Melalui komunikasi yang baik, seorang peserta didik akan dapat lebih selektif dan efektif dalam menyelesikan suatu tugas serta permasalahan tertentu.

Collaboration 

Siswa yang kooperatif yaitu kemampuan seseorang untuk dapat bekerja sama dengan orang lain dalam kelompok dan mengembangkan relasi yang baik dengan orang lain. Mereka mampu bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan bersama dan memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam tim. Perintah untuk melakukan kolaborasi tidak hanya ditemukan dalam pembelajaran tetapi dalam Al-Qur’an juga ditemukan perintah untuk berkolaborasi dalam mengerjakan sesuatu.

Diantaranya dalam, (surah al-Maidah [5]: 2): Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”. Ayat ini merupakan perintah untuk berkolaborasi dalam Islam. Kolaborasi dalam pembelajaran adalah sebagian kerjasama dalam perkara kebaikan karena bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Creative and Innovative 

Pada era yang serba digital saat ini, seorang peserta didik harus dapat kreatif dan inovatif. Seorang peserta didik harus menjadi agen perubahan dengan memanfaatkan teknologi. Oleh karena itu, dalam pembelajaran, harus memberikan peserta didik kesempatan seluas mungkin untuk menyampaikan ide-ide mereka. Guru diharapkan menjadi fasilitator sekaligus rumah pertama bagi mereka untuk selalu kreatif dan inovatif.

Citizenship

Pada dasarnya, salah satu keterampilan 6C ini menekankan pada pentingnya lingkungan tempat siswa tinggal dan belajar. Dalam arus informasi global seperti sekarang, siswa harus memiliki identitas diri yang kuat, yang selaras dengan lingkungan dan budayanya.

Character

Keterampilan 6C yang terakhir ini menyoroti pentingnya memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain, terutama dalam era digital seperti sekarang. Seseorang yang peduli dan welas asih terhadap orang lain cenderung memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Namun demikian, karakter tidak dapat diajarkan melalui mata pelajaran tertentu. Justru siswa menyerap dan mengembangkan karakternya melalui guru dan sosok-sosok penting lain yang dijumpai sehari-hari. Oleh karena itu, seyogianya setiap tindakan dan perilaku kita menunjukkan kualitas leardership dan kecerdasan emosional yang baik agar siswa dapat meneladani dan mengembangkan kompetensi abad 21 yang dibutuhkannya.

Di era sekarang dengan perubahan yang begitu cepat dan tidak terduga di berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan juga mengalami tantangan yang signifikan. Untuk membangun daya kritis siswa maka dapat dikembangan dengan membekali kompetensi mereka keterampilan berpikir kritis, komunikatif, bisa bekerja sama, kreatif dan inovatif, mengenal lingkungan nya dan memiliki rasa kepedulian dengan orang lain. Maka sinergisitas guru dan orang tua sangat strategis untuk menyiapkan manusia yang unggul di masa depan.

 

 

Referensi:

https://pertiwi.ac.id/transformasi-sdm-unggul-di-era-vuca/.

Fitri  Rachmaniah  Azhro, “Tantangan Pendidikan Tinggi Menghadapi Perkembangan Teknologi Digital dalam Era VUCA”, Proceeding Conference On Psychology And Behavioral Sciences, Vol. 2 No. 1 (2023).

Muhammad Prayoga, dkk, Menurunnya Tingkat Belajar Mahasiswa Di Era VUCA” Proceeding Conference On Psychology And Behavioral Sciences, Vol. 2 No. 1 2023.

Hj. Hamdanah, Surawan, Siti Sarifah, Pendidikan Islam di Abad 21 Konsep Metode & Dinamisasi Human Resources, Yogyakarta: K-Media, 2018.

Kementerian Agama RI Al-Qur’an Keluarga, Bandung: CV. Media Fitrah Rabbani, 2012.

Luluk Nurjana, Skripsi: “Penerapan Kecakapan Abad 21 Dalam Pembelajaran Tematik Kelas III SD Aisyiyah Surya Cerai Karanganyar”, Surakarta: UIN Raden Mas Said, 2022.

Komentar